Daisyflo: Dendam Kesumat itu Menghancurkan.

Judul: Daisyflo

Pengarang: Yennie Hardiwidjaja

Genre: Metropop

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 256 halaman

Harga: Rp 40.000

Cetakan: pertama, Maret 2012

Star: 4 out of 5

 

Pas pertama kali denger langsung mikir: maksudnya? Yes, gue gak ada bayangan sama sekali sebelum baca sinopsisnya.

Setelah beberapa kali melewatkan kesempatan membaca novel ini (kesela baca The Sweetest Kickoff, Rumah Cokelat dan I Hate Rich Men) akhirnya weekend setelah UTS ini berhasil memboyongnya ke kasur untuk dibaca sebelum tidur ;)

Awal tahu nama tokoh-tokohnya, langsung komentar “yah namanya umum nih kurang beda”. Ada Tara, Tora, Junot, dan Alexander.

Tara. Cewek yang pas kuliah ‘pacaran’ sama Tora. Dan ‘selingkuh’ sama Junot.

Tora. Sudah kerja waktu Tara masih kuliah. Tapi pacaran gak modal. Gak modalnya bertaraf tinggi pula, gak sekadar ‘lo-bayar-pengeluaran-date-kita-ya’. Udah gitu jagoan nekan posisi Tara dengan alasan segudang. Beneran ampun!

Junot. Cinta hasil iseng-isengnya Tara. Tahu kan kalau abis ospek sering disuruh bikin surat cinta buat senior? Nah, Tara ngirim suratnya ke Junot nih. Surat yang nantangin banget!

Alexander. Orang yang dekat dengan Tara setelah dia ‘kabur’ dari kehidupannya di Jakarta, tepat setelah sidang tugas akhir. He’s the sweet one yang bilang kalau dia rela berkorban buat Tara.

Well, banyak banget ya yang suka Tara? Yang rada kering pasarannya mungkin BT. But please, don’t. Hidupnya si Tara ini kasarnya: ancur banget. Bukan, bukan ancur dalam artian dia gak serius kuliah, dia boros pakai uang orangtuanya, juga bukan narkobaan.

Hidup Tara hancur di tangan Tora.

Biasa denger KDRT–Kekerasan Dalam Rumah Tangga, dan KHDRT–Ketidak-Harmonisan Dalam Rumah Tangga? Ini nih yang dialami Tara. Saat baru pacaran.

Satu kata: gilak. Ho’oh, pakai ‘k’.

Asli ya, gue emosi banget sama Tara dan Tora!! *pasang muka gedek maksimal*

“Aku masuk dalam lingkaran setan. Aku melakukan semua yang dia inginkan, asal dia tidak meninggalkanku.” (hlm 120)

Satu, ceweknya goblok. Come on, lo baru pacaran, udah disiksa lahir-batin-materiill-nonmateriil tetep aja stay di samping laki yang busuk itu? Masih banyak ikan di laut kaliii!! Dan ikan kakap gak cuma satu! (Yang ganteng dan oke berat maksudnya hehe) Tapi beneran, gue heran sama ketidakberdayaan dia–yang walaupun terjawab di pertengahan, I still don’t get it. Ya mungkin karena gue gak mengalaminya sendiri. Atau karena beda prinsip/pandangan sama si Tara. Tapi beneran deh, dikasih kalimat “aku sayang kamu, kamu kan calon istriku” aja langsung lemah si Tara. Aduh, sorrry to say, apa kabarnya abis resepsi kawinan??

“Dompet Tora ketinggalan, Cayang oon.” -Tora (hlm 20)

“Boro-boro Tora ganti duit taksi, duit sayur saja Tora nggak pernah ganti untuk Tara!” -Tara (hlm 45)

“Teman-teman Tora keburu tahu Tora punya mobil baru.” -Tora (hlm 45)

Dua, lakinya brengsek. Itu anak orang disuruh bayarin kencan, beresin rumah doi, nyuruh naik angkot, mobil barunya Tara di HM-in, dan masih banyak lagi yang bikin geleng-geleng kepala banget.

Mbak Yennie sukses banget sih naik-turunin emosi pembaca. Uniknya, kalau di novel-novel lain kita langsung jatuh hati sama tokohnya (let’s say Harris-nya Antologi Rasa yang loveable atau sama Troy dan Gadis-nya LHHP yang kocak), di Daisyflo ini gue langsung benci dua-duanya. Yah walaupun masih ada kasihannya (sedikit) sama si Tara-geblek.

Anyhoo, plot Daisyflo ngacak banget. Jenis teksnya ada dua: pertama PoV Tara pas masih kuliah, kedua PoV orang ketiga dimulai pas Tara mau ngebunuh Tora. Keduanya merangkai premis: gue sakit hati lo perlakuin seenaknya, sini gue bunuh lo karena udah menghancurkan hidup gue (PoV Tara).

Sinopsis atau review gue kurang ke detil cerita? Susah boo, bakal jadi spoiler soalnya.

Mengenai judulnya Daisyflo, yang belum baca mungkin gak ngerti. Ini sih ada hubungannya sama bunga Daisy yang disukai banget sama Tara. Denger dari ci Hetih Rusli, sang editor, pas draft awal judulnya ‘Tara Harus Memaafkan Tora’. Lebih catchy yang Daisyflo ya? :)

Satu yang kurang dan cukup mengganggu mata gue: banyak banget kesalahan salah taruh tanda petik, buka maupun tutup. Kalimat tak langsung seakan-akan jadi langsung, begitu juga sebaliknya. Jadi sedikit bingung dan merasa gengges karena kudu liat lagi awal kalimat atau paragraf untuk memastikan kalimat langsung/tak langsungnya dari mana sampai mana.

Oya, cover-nya juga kurang catchy, IMHO. Kurang menggambarkan isi cerita gitu…

Selebihnya sih, mantep. Sampai-sampai nih mulut gue gak berhenti nyuruh teman-teman yang lain untuk baca *buzzer wanna be* hehehe

“I’m gonna kill him, someday.” (hlm 134)

Alert sebelum membeli dan membaca: jangan harap nemu keromantisan yang sweet-sweet cheesy gitu ya. Daisyflo is about dendam jadi kejam dan suramnya kental. Nuansanya kelabu boo! Beda sama Metropop kebanyakan yang biasanya cerah.

Well, Daisyflo: forgiveness is a gift to yourself. Without the willing to forgivem we couldn’t help ourself to step forward. Noted it :)

P.S: maaf rada kasar pakai ‘goblok’, ‘brengsek’ atau ‘geblek’. EMOSI BANGET soalnya! :P

Posted in Library | Tagged | Leave a comment

Read the quote?

Well, is it true if your eyes closed, you can pretend you didn’t see a thing?

IMHO, if I close my eyes, then my brain will ‘do it’. My imagination will do whatever that eyes used to see, but in the different ways.

Imagination will make the things not in a real image.

It’ll show us the one we want to see.

And, when we open our eyes, what we’ll see is the fact that will make us disappointed.

It’ll hurts us even more…

Posted in Bla and the bla | Leave a comment

Tukang nyetrika #MauTheRaid

Minggu lalu kak Ika Natassa bilang mau nraktir 10 pembacanya nonton The Raid.

Gue yang kepingin banget ketemu doi dan melengkapi tandatangan di buku-bukunya, semangat buat ikutan. Sekalian balas dendam karena pas kuis sebelumnya, telat upload (gegara signal flash sialan). Ini entri gue:

Alhamdulillah, jadi salah satu yang dapat tiket nontonnya. Dan, bisa ketemu kak Ika! Yeay! Tambahan lagi, pas kenalan sama beberapa yang menang lainnya, seru gituuu… Nih ya ada Tika, Uchy, Dyang, Dennis, dan Annisa. Temen baru! :) )

Rencananya beberapa minggu lagi mau kopdar sama mereka lagi. Di: Sabang. #terAntologiRasa bangeeeettt (usul gue sih hehe)

Anyway, ini foto bareng kak Ika dan readers lain. I’m a happy fan! :)

Untuk filmnya, gue gak komentar deh. Yang pasti nih ya, darah, bacokan, pukulan, DIOBRAL!! Gue sama teman-teman yang lain gak berhenti jerit-jeritan dan (sok-sok) tutup mata :P Tapi beneran recommended!

Posted in Journal | Leave a comment

Gramedia and I

I love books. I love novel. What about you, geng?

One of my favorite novel publisher is Gramedia Pustaka Utama. Yes, the one with red Gm logo on the books.

Gramedia is having their anniversary celebration this week. As one of their reader, I’d like to sand a birthday greeting. The idea came in the middle of my Liputan Media Penyiaran class (sorry to mas Harry for ignoring his explanation hehe :P ).

Well, this is my lil story with Gramedia…

 

 

That’s mine. How about you guys? Remember the first time you enjoy several books type? Share it! :)

XO.

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

What I wish is…

…this. May I?

Posted in Bla and the bla | Tagged | Leave a comment

Aku bersenang-senang. Semalam.

Aku dihimpit emosi yang bergejolak. Sekarang. Dari tadi.

Ini hidup.
Saat pagi dan malam tidaklah sama.
Saat kita harus mengecap manis dan pahitnya. Secara bersamaan. Atau bergantian.

Tinggallah pertanyaan: dapatkah aku bertahan, dan maju terus?
Atau tertinggal di tempat si kelam?

Posted in Bla and the bla | Tagged | 2 Comments

Cerpen

Enak dibaca.

Cepat habisnya.

Tapi gak mudah membuatnya. *sigh*

Beneran deh, I need more than (just) idea to write it.

Anyway, I think it is true that “writing is rewriting“.

Posted in Bla and the bla | Tagged | Leave a comment